The End.

 "Maaf, Vio. Tapi kayaknya kita emang–"

"Tau gak? Tau gak apa yang bikin usaha kita gagal? Pikiran kita tuh udah gak sejalan, Dhik."

Pria itu terdiam. Aku menahan isak tangisku dalam diam. Ternyata kita berdua gagal. Gagal untuk mempertahankan hubungan dan gagal mempertahankan diri masing-masing.

"Kalau kamu emang mau sama perempuan yang bisa kamu ajak nikah sekarang, silakan cari. Kita pisah, dan kita akan menuju jalan masing-masing. Sesuai yang kita mau."

"Kamu ngerti gak, kalau aku maunya kamu?"

"Ya, udah, sabar!" Aku menatap Andhika penuh amarah. Ini kesekian kalinya, Andhika memaksaku untuk menikah tahun ini. Jelas, ada alasan tersendiri mengapa aku menolak ajakannya. Padahal jelas-jelas seluruh hati ini, sudah aku berikan padanya.

"Menikah itu gak main-main, Dhik."

"Aku tahu."

"Aku cuma–" aku terisak pelan. "Aku nggak siap, Dhik. Nikah itu sakral. Satu kali dalam seumur hidup."

Aku menoleh ke arahnya dengan mata memerah. "Memangnya salah satu dari kita mau? Meninggalkan Tuhan kita cuma untuk ini?"

Andhika diam seribu bahasa. Tatapannya berpaling pada ban motor di hadapannya.

"Gak siap 'kan?" Aku berdiri dari dudukku. "Kita udah bahas ini berkali-kali, dan sampai sekarang kita gak menemukan jawabannya. Lalu, apa yang kamu harapkan?"

Andhika menghela napas kasar. "Aku bakal pilih kamu, Vi."

"Dan merelakan keluarga kamu? Merelakan kedekatan kamu dengan Tuhan selama ini?"

Pria itu terdiam lagi. Aku mendengus pendek.

"Memang seharusnya sejak awal, aku nolak ajakan kamu untuk pergi ke bioskop."

"Terus kamu menyesali semuanya, iya?" Aku tidak menjawab pertanyaannya.

Andhika berdiri dengan gusar. "Ayo pulang. Aku anter kamu sampai gerbang. Aku gak akan mampir, mau langsung pulang."

Dan hari itu, hari di mana kami resmi berpisah. Hubungan tiga tahun delapan bulan kami begitu sia-sia. Karena perbedaan agama, keyakinan, dan pola pikir masing-masing.

Andhika baik. Sangat baik. Aku tidak bisa membandingkan kebaikan siapa pun dengan Andhika. Ia juga gak pernah kasar padaku. Baik secara lisan mau pun fisik.

Menertawakan pria yang sedang bersin, senang mencium aroma bedak bayi, selalu merusak alat kosmetikku, benci sekali pada roti, dan kebiasaannya mengerucutkan bibir saat sedang memakai sepatu adalah hal terbaik yang Andhika miliki dalam hidupku.

Aku menatap diriku di cermin. Dengan gaun merah marun yang Andhika berikan khusus untuk acara ini. Ia paham betul, seberapa sukanya aku dengan warna marun. Aku juga memakai beberapa aksesoris di jari jemariku. Tentu saja untuk menyempurnakan diri.

Aku melihat Andhika berjalan menuju altar. Aku tersenyum manis menatapnya yang tengah gugup. Lihat, tuxedo putihnya membuat ia semakin terlihat tampan dan elegan.

Andhika memberiku jari jempol sesaat ia melewatiku. Aku mengangguk tipis dan memberikan dirinya sebuah tanda semangat.

Aku bisa melihat bagaimana cantik nan rupawannya wanita yang akan mendampingi Andhika untuk selama-lamanya. Wajahnya yang tidak membosankan membuat siapa pun ikut terhipnotis untuk terus menatap wajahnya yang seperti akan hilang dalam waktu lima detik.

Aku tidak sedih. Untuk apa aku sedih. Ini memang pilihan terbaik kami. Bagaimana pun hubungannya, kalau berada di ujung jalan, kita sudah pasti harus menentukan sebuah pilihan. Pilihan yang begitu sulit bagi keduanya.

Kau mau meninggalkan Sang Pencipta, atau ciptaan-Nya?


Comments