Aku menarik napasku dalam-dalam, dan menghembuskannya dengan perlahan. Di jalanan yang lengang ini, menambah kesan sepi karena hanya ada aku yang hadir di sini. Dulu, ada aku dengannya berjalan beriringan dengan sebuah lagu klasik kesukaannya, yang mana membuat aku turut menyukainya. Ini bulan ke-enam dirinya menghilang entah ke mana.
"Gio,"
"Ya?"
"Menurut kamu, sampai kapan kita seperti ini?"
"Hmm," Gio berdeham pelan. "Kenapa tiba-tiba? Ada yang mengganggu pikiran anak cantik ini?" Ia mengusap jemariku dari dalam saku jaket.
Aku tergelak ringan sembari menundukan kepala. "Nggak. Cuma nanya."
"Ra, kamu lagi mikir yang enggak - enggak, ya?"
"H-hah?" Aku menoleh ke arah Gio. "Nggak, kok. Serius."
"Gistara, lihat Gio." Pria itu menghentikan langkahnya dan menangkup wajahku lembut. Ia tersenyum tipis lalu mengusap kepalaku dengan penuh kasih sayang. Yang mana, itu membuat diriku semakin salah tingkah.
"Lama atau tidaknya kita, itu gak akan membuat rasa sayang aku sama kamu berkurang. Lama atau tidaknya kita, aku tidak peduli, karena yang Gio sayang cuma Gistara. Ngerti?"
Aku terdiam, "apa itu artinya Gio mau ninggalin Rara?"
"Nggak gitu poinnya, sayang." Gio menatap mataku penuh. "Jujur sama aku, kamu kenapa?"
"Gio, mau janji nggak sama Rara?"
"Janji apa?"
Aku mengacungkan jari kelingkingku tepat di hadapannya. "Pinky promise dulu."
Gio tergelak lalu tertawa pelan, kemudian menyatukan jari kelingkingnya dengan milikku.
"Janji. Gio janji, apapun yang terjadi sama Rara atau pun hubungan kita."
"Rara mau, Gio janji untuk sayang terus sama Rara. Untuk nggak ninggalin Rara tiba - tiba. Gio harus janji kalau Gio bosen sama Rara atau hubungan ini, bilang sama Rara. Jangan sampai Gio menghindar apalagi menghilang. Gio tahu sendiri 'kan kalau Rara gak suka ditinggalin tiba-tiba."
Senyum Gio merekah, "iya, sayang. Gio janji. Rakagio Mahesa janji atas ucapan-ucapan yang Gistara Chandrakanti janjiin barusan."
Aku melebarkan senyumanku, dalam hitungan detik aku membanting tubuhku pada tubuh Gio. Aku memeluk erat tubuh tinggi miliknya.
Tuhan, Rara sayang Gio. Apapun yang terjadi, tolong jangan hilangkan Gio dari hidup Rara, Tuhan. Rara mohon.
"Gista!"
Aku tersadar dari lamunanku, dengan segera aku menyeka air mataku yang sempat membasahi pipi.
"Y-ya?" Aku membalikan badan, Dian yang sedang tersenyum dari jauh menghampiriku dengan sedikit berlari.
"Dari mana?" Katanya dengan senyum yang masih menghiasi wajahnya.
"Umm, dari..." Aku terdiam singkat kemudian tersadar bahwa aku sudah sampai di pekarangan rumah. "Dari tempat magang. Gue dikasih izin sama Pak Gilang."
"Terus sekarang mau balik?"
"Iya, kayaknya. Gue agak capek juga, sih, kemarin lembur."
"Yah," nada kecewa keluar dari mulut Dian.
"Kenapa?"
"Tadinya gue mau ngajak lo ke Coffee Shop yang baru aja buka di depan."
Aku berdeham pelan, "besok lagi deh, ya? Gimana?"
"Iya, gakpapa kok, Gis. Gue ngerti. Istirahat yang cukup, ya! Jangan mikirin itu cowok mulu. Gak capek?"
Aku tersenyum ketir. "I'm trying. Kalau gitu, gue pulang, ya?"
"Okay, besok kasih kabar lagi, ya, ke gue!"
Aku kembali melangkahkan kakiku menuju rumah.
Coffee Shop.
Suatu hal yang membuat Gio tergila-gila. Atau bisa dibilang, Gio pecinta kopi sejak ia menginjak sekolah menengah pertama. Kencan pertama kami, Gio mengajakku untuk ke Baladewa, sebuah Coffee Shop milik pamannya. Aku tidak terbiasa meminum kopi, jadi aku memesan milkshake-minuman kesukaanku, sedangkan Gio memesan v60.
"Gimana rasanya? Enak?"
Aku mengangguk semangat. "Ya! Mirip dengan buatan Oma dulu."
"Bagus deh kalau kamu suka." Gio tersenyum dan kembali meneguk minumannya.
"Itu pait nggak?"
"Nggak," Gio memperlihatkan satu gelas v60-nya. "Mau coba?"
"Betulan nggak pait?"
Gio terkekeh nyaring. "Coba aja, biar tahu rasanya."
Begitu cairan hitam itu masuk ke mulutku, aku terbatuk membuat Gio terkikik geli. "Pait banget. Nggak enak. Rara gak suka."
"Ya, udah yang penting Rara tahu rasanya."
Lagi-lagi aku harus menghapus air mataku karena mengingat sepercik momenku dengan Gio.
Hubunganku dan Gio berjalan dua tahun delapan bulan. Bisa dibilang kami ini kenal cukup lama, karena kami sempat berteman tiga tahun sebelumnya. Awal kami berteman karena Gio adalah kakak kelasku waktu aku SMP, dan kami sama - sama mengikuti organisasi. Yang tidak aku sangka, Gio masuk ke SMA yang sama denganku. Itu benar-benar sebuah ketidaksengajaan.
"Gista, mau ikut ayah ke kantor?"
"Ngapain?"
Ayah memakai jam tangannya lalu menatapku yang tengah menatapnya bingung. "Menjadi perwakilan, karena ibumu tidak bisa."
"Harus banget, Yah? Kenapa gak Kak Giyan?"
"Giyan lagi sibuk. Kamu 'kan dapat izin dari bosmu."
Aku menghela napas panjang. "Gista males, Yah. Kemarin Gista lembur, makannya Gista dikasih izin pulang."
"Ada dimsum bisa ambil sepuasnya." Ayah mendaratkan pantatnya di sofa untuk memakai sepatu. Aku menatap alis satu ke arahnya.
"Lalu?"
"Ada milkshake cokelat."
Aku menyipitkan mata menatap Ayah. "Sepuasnya?"
"Sepuasnya."
"Oke." Aku bangkit dari dudukku dengan cepat, berlari menuju kamar untuk mengambil tas, dan kembali menemui Ayah.
Ayah tertawa nyaring saat aku sudah berdiri di hadapannya. Ia mengusap surai hitamku dengan gemas. "Anak ayah yang satu ini harus disogok dulu, ya, sama milshake cokelat."
"Ayo, berangkat." Aku meninggalkan Ayah terlebih dahulu. Sementara Ayah masih dengan tawa gemasnya.
"Ra, berhenti marahnya, ya? Ini aku bawain milkshake cokelat buatan paman dua botol."
Aku tidak menjawab ucapan Gio. Aku marah, marah besar. Karena ia berbohong, ia bilang bahwa ia akan pergi dengan Laura-adiknya, padahal faktanya ia pergi main PS dengan teman-temannya.
"Ra, aku minta maaf.. aku janji gak akan ngulangin."
"Terakhir kali Gio bilang, Gio gak bakal bohong. Terus sekarang apa?" Aku menatap mata Gio dengan kesal. "Gio tahu gak? Rara tuh khawatir. Bahkan mama Gio aja gak bisa menghubungi Gio. Rara sampai minta kabarin ke Om Hadi karena Gio gak ngangkat telefon dari Rara berkali-kali."
"Iya, sayang. Maaf, ya? Aku udah beliin kamu ini, dua botol."
Aku menatap Gio dan menatap keresek yang ia bawa.
"Ekstra es gak?"
Gio melihat milkshake-nya. "Hehehe, tadinya ekstra es. Cuma Rara-nya marah dulu. Jadi cair deh."
"Gio, kalau Gio bohong lagi, rayuan milkshake udah nggak ngaruh. Yang mana, itu artinya Rara betul-betul marah. Ngerti?"
"Iya, sayangnya Gio. Nih, diminum."
Aku mengambil satu botol dari dalam keresek, kemudian meminumnya sampai habis.
"Hahaha, Rara haus apa doyan?"
"Haus. Marah-marah ke Gio bikin Rara haus."
Gio tertawa nyaring membuat aku ikut tersenyum kecil. Setelah aku menghabiskan milkshake-ku, Gio memasangkan helm merah maroonnya padaku.
"Gista, jadi gimana tawaran Ayah soal kuliah di Jerman?"
"Hah? Emang jadi? Kata ibu, Ayah cancel gara-gara beasiswanya kurang terpercaya."
"Iya, tadinya. Cuma ada yang ngasih Ayah sponsor lagi. Gimana? Mau?"
Aku terdiam menghiraukan tawaran Ayah. Dulu, aku sempat menolak beasiswa yang Ayah tawarkan karena aku memiliki Gio di sini. Gio adalah alasan utamaku kenapa aku memilih untuk kuliah di Indonesia daripada Jerman. Namun sekarang, aku pikir aku tidak ada lagi alasan untuk tetap tinggal di sini. Lagipula, apa susahnya membahagiakan Ayah dan Ibu serta Kak Giyan dengan cara aku menerima beasiswa?
"Kalau kamu gak mau, akan Ayah cancel lagi."
"Eh- Gista mau kok."
"Beneran?" Ayah menatapku dengan tatapan tidak percaya. Aku mengangguk.
Lagipula, Dian benar. Untuk apa aku memikirkan Gio. Sebagus apapun Gio, secinta apapun Gio, sesayang apapun Gio, dia tetap membohongi dan mengingkari janjinya padaku. Setelah hidupku yang berubah semenjak Gio menghilang, aku akan berubah untuk diriku sendiri. Menjadi diriku yang lebih baik, with or without Rakagio Mahesa.
*
"Ini Gista, anak saya yang kedua." Ayah memperkenalkanku pada beberapa temannya. Aku hanya memberikan senyuman terbaikku pada mereka karena aku tidak ingin mengecewakan Ayah.
"Ayah, aku ingin buang air kecil."
"Oh, di situ toiletnya, sayang." Ayah menunjuk sebuah lorong kecil di ujung kanan. Aku mengangguk dan meninggalkan Ayah dengan beberapa teman-temannya.
Aku menatap bayanganku di cermin. Banyak perubahan dalam wajahku yang baru aku sadari. Lingkar bawah mataku yang kian menghitam, serta kantung mataku yang semakin membesar, juga pipiku yang terlihat lebih kurus dibanding sebelumnya.
"Gio mau Rara kayak gini terus."
"Gini gimana?"
"Gini," Gio menjepit kedua pipiku dengan satu tangannya. "Gio seneng mainin pipi Rara."
"Apa, sih." Aku memukul lengan Gio kencang, sementara yang dipukul hanya tertawa lepas karena menurutnya ia berhasil membuat aku salah tingkah.
Aku memegang kedua pipiku. Gio benar. Pipiku ini lebih bagus dan lebih cantik jika tidak kecil seperti ini. Aku juga baru sadar bahwa kedua lenganku lebih kecil dari sebelumnya. Menghilangnya Gio dari kehidupanku benar-benar membawa dampak buruk.
Tapi aku baru sadar, aku bisa melewatinya selama enam bulan ini.
Aku bisa hidup tanpa Gio. Seharusnya aku sadar sejak awal. Untuk apa aku menangisi Gio setiap malam, untuk apa aku memikirkan hal kecil yang berkaitan dengan Gio setiap saat, dan untuk apa aku masih menatap foto kami berdua dari balik ponsel, semua itu tidak berguna karena pada akhirnya, Gio tetap menghilang dari hadapanku. Rakagio yang berjanji untuk tidak meninggalkanku itu mengingkari janjinya. Dan aku benci lelaki penuh ingkar janji.
Aku merapikan pakaianku dan cepat meninggalkan toilet.
"Sudah, Gis?"
"Sudah, Yah."
"Ayo, ke sana. Waktunya makan." Ayah menggenggam jemariku. Untuk pertama kalinya setelah enam bulan, aku tidak mengingat Gio di setiap kejadian.
"Anda bilang anda mau ke Australia? Itu benar?"
"Ya, benar. Istriku mendapat tawaran pekerjaan yang luar biasa di sana."
"Anakku, Dion juga mendapat beasiswa di Australia."
"Oh, benar 'kah?"
Pria berdasi itu tertawa bangga. "Bagaimana dengan anda Pak Chandra?"
Ayahku yang tengah mengunyah sepotong siomay itu menghentikan aktivitasnya.
"Ya? Kenapa?"
"Itu, anakmu. Jadi kau kuliah kan di Jerman?"
Ayah tersenyum lalu mulai menjawab pertanyaan-pertanyaan sombong dari beberapa konglomerat tersebut membuat aku berdecih pelan.
"Percuma kesombongan-kesombonganmu itu gak dibawa mati." Batinku jengkel.
"Ayah, aku ingin keluar sebentar." Izinku pada Ayah, dan cepat aku meninggalkan Ayah dengan partner kerjanya yang sombong itu.
"Hahhh-" aku menghela napas panjang. Udara malam ini sangat sejuk. Biasanya Gio akan--
"Tidak." Sergahku pada diri sendiri.
"Gistara bisa. Pasti bisa." Aku mengepalkan tangan pada pagar besi. "Gistara bisa. Yuk, kita coba perlahan."
*
Ini hari keberangkatanku ke Jerman. Ibu sedang sibuk memasak bahan masakan agar aku bisa memasaknya ketika aku berada di Jerman. Tiket dan visaku sudah diurus oleh Ayah. Sementara aku belum melihat Kak Giyan sejak kemarin.
Tak lama ponselku berdering menandakan ada panggilan masuk. Aku mengambilnya dan itu panggilan dari Mama Gio. Jantungku berdegup lebih cepat dari biasanya. Mereka, mereka yang tidak menjawab teleponku selama enam bulan terakhir.
Tanganku basah oleh keringat. Aku menggigit bibir bawahku kencang. Lelucon apalagi ini?
"H-halo, Ma?"
"Gistara..."
Jantungku melongos.
"I-iya, Ma? Kenapa..?"
"Bisa ketemu Mama sebentar, nak? Sebelum kamu ke Jerman."
"K-kok... Mama tahu?"
"Di Baladewa, ya, sayang. Mama tunggu sekarang."
Pip.
Panggilan terputus.
Aku memiliki jadwal flight jam dua siang, sementara sekarang masih jam sepuluh pagi. Beruntung aku sudah bersiap, jadi aku bisa bertemu dengan Tante Diva di Baladewa. Aku tidak mengerti. Mengapa dan apa alasan keluarga Gio bersembunyi selama ini.
"Bu.., Gista izin pergi.. nemuin Tante Diva.." Aku menunduk tidak berani menatap Ibu.
Ibu yang sedang memasukan bawang itu menghentikan aktivitasnya.
"Ada apa, sayang?"
"Hiks-" aku tidak sanggup menahan air mataku. "Gista gak tahu, Bu.."
"Sini, sayang." Ibu memeluk tubuhku erat, aku membalasnya. "Apapun yang terjadi, tolong jangan benci mereka, ya, sayang? Ibu dan Ayah gak pernah sekalipun mengajarimu untuk membenci seseorang."
Aku mengangguk pelan. "Iya, Ma.. kalau gitu, Gista berangkat."
"Hati - hati, sayang."
*
"Apa kabar, sayang? Tante Gina sehat?"
"Sehat, Ma."
Suasana hening menyeruak kami berdua. Aku yang bingung harus apa, hanya bisa menggaruk tengkukku.
"Gista," panggil Tante Diva. Aku menengok ke arahnya, mata Tante Diva sudah memerah. "Pertama, Mama mau minta maaf, nak. Maaf karena selama sembilan bulan ini Mama menghilang, bahkan Mama gak ngangkat telepon kamu selama ini. Maafkan Mama, ya, anak baik?"
Aku mengangguk kecil tanpa menatapnya.
"Mama dan keluarga pindah, sayang. Dan, sekarang.. Mama pikir sudah gak ada lagi alasan Mama di sini selain kamu."
"Ma, bisa langsung ke poinnya, nggak? Gista takut ketinggalan pesawat, Ma."
Sebenarnya salah satu alasan aku ingin cepat pergi karena aku tidak bisa menahan air mataku yang sudah tertumpuk di pelupuk mata.
"Yuk, ikut Mama."
Tante Diva mengantarku ke sebuah pemakaman. Hati aku sudah tidak karuan. Pikiran sudah memikirkan yang tidak-tidak, sampai akhirnya-
Rakagio Mahesa Bin Hadi Abimanyu
Lahir : Jakarta, 15 September 1998
Wafat : Singapore, 20 Maret 2017
Deg.
Napasku tercekat. Itu Gio. Rakagio Mahesa yang menemani hari-hariku selama lima tahun terakhir. Ia Rakagio Mahesa yang tidak pernah lelah menghadapi sifat burukku selama ini. Ia Rakagio Mahesa yang selalu sabar dengan orang - orang sekitarnya. Ia Rakagio Mahesa yang selalu terlihat kuat dan sehat di hadapanku dan di hadapan semua orang. Ia berhasil. Berhasil menunjukkan pada semua orang bahwa dia lelaki yang kuat.
Jangan tanya apa air mataku sudah keluar apa belum, karena jawabannya jelas sudah. Baju cantik pemberian Gio sudah basah oleh air mata.
"Di hari pertama dia menghilang, dia pingsan selama tiga hari, Gis. Setelah Mama antar ke rumah sakit, Mama baru tahu kalau tumor hati yang ada di dalam tubuh Gio itu membesar. Gio maksa betul kalau dia gak mau kamu tahu, makannya dia nyuruh kita semua termasuk Mama untuk lost contact dari kamu. Gak ada sehari pun dalam hidup Gio tanpa mikirin kamu, Gis. Gista ingat, bunga yang tiba - tiba ada di depan rumah Gista saat itu? Itu pemberian Gio. Gio bilang kalau kamu suka mawar putih.
Gio selalu memperhatikanmu dari jauh, Gista. Gio selalu senang jika melihatmu tertawa dengan teman-temanmu. Gio akan merasakan sakit jika melihatmu menangis, apalagi Gio sendiri lah penyebabnya. Makannya ia selalu punya cara agar kamu tersenyum.
Kalimat yang selalu Gio ucapkan pada Mama itu, 'Ma, Gio gak seneng liat Rara sedih. Gio sakit kalau Rara nangis gara - gara Gio. Ma, kalau Gio berbuat salah sama Rara, hukum Gio, Ma. Hukum Gio seberat - beratnya. Karena Gio gagal untuk membahagiakan Rara' . Gis, Mama beruntung. Beruntung sekali, Gio dipertemukan dengan orang sebaik kamu."
"Hiks- Mama.."
Tante Diva mengelus suraiku sesaat aku sudah melingkarkan kedua lenganku pada punggungnya. Aku memeluk erat Tante Diva, seakan-akan merasakan bahwa Tante Diva adalah Rakagio.
"Tolong maafkan Gio, ya, sayang. Maaf karena selama sembilan bulan ini Gio meninggalkanmu tanpa kabar sama sekali."
Aku mengangguk cepat sebagai balasan. Air mata ini membuatku tidak sanggup untuk mengeluarkan sepatah kata apapun.
"Tadinya Mama gak akan memberi tahu hal ini, tapi Mama merasa berdosa kalau kamu gak tahu. Lagipula ini sudah dua bulan semenjak Gio gak ada, dia pasti lagi senyum sekarang lihat kamu. Betapa bangganya Gio melihat kamu akan berangkat ke Jerman untuk melanjutkan studi kamu."
"Hiks-" aku melepaskan dekapan. "M-ma.. tolong bilang sama G-Gio.. Rara sayang banget sama Gio.."
Tante Diva menyeka air mataku lembut. "Gista janji sama Mama, ya? Jangan lagi kamu sedih karena Gio, ingat kalau Gio lebih bangga dan lebih bahagia di atas sana liat kamu, oke, sayang? Janji, ya?"
Aku tersenyum kecil lalu mengangguk. "Akhirnya Gio gak harus pura - pura kuat lagi, ya, Ma."
"Iya, sayang. Gio udah tenang sekarang."
Aku menghela nafas, lalu berjalan pelan menuju batu nisan berwarna putih.
"Hai, Gio." Aku terdiam singkat lalu tersenyum seolah ada sosok Gio yang sedang membalas tatapanku dengan tatapan teduhnya. Sementara Tante Diva sudah meninggalkan makam Gio, seakan mempersilakanku untuk mempunyai waktu berdua dengan Gio.
"Maaf, ya, Rara gak tahu perjuangan kamu melawan penyakit kamu itu. Makasih buat semua perjuangan Gio ke Rara. Rara seneng kenal Gio, seneng bisa lihat senyum Gio kalau Gio lagi sedih, seneng bisa jahil ke Gio kalau Gio lagi kesel. Hahaha, Gio inget nggak waktu Gio kalah main game gara - gara Rara matiin wifi di rumah Rara? Muka kaget Gio lucu banget. Rara suka ketawa lagi kalau inget itu." Aku menarik napasku sebelum melanjutkan kalimat.
"Gio, hari ini keberangkatan Rara ke Jerman. Rara bakal lanjut sekolah Rara di sana. Rara janji, bakal sering temuin Gio. Gio juga janji, ya, kalau Gio harus baik-baik aja di sana." Aku tertawa pelan. "Ya, ampun Rara masih gak nyangka deh, kalau kejadian Rara salah nge-add orang waktu itu berdampak kita kayak gini. Gio tuh dulu dingin banget sama Rara. Rara cantik gini malah dicuekin, hih. Untung Gio ganteng, jadi Rara maklumin. Gio ganteng. Pacar Rara ganteng. Paling ganteng sedunia.
Kak Gio.., hahaha, Kak Gio. Gio dari dulu benci banget Rara panggil Kak. Katanya berasa tua banget. Padahal 'kan nyatanya Gio emang tua." Aku menghentikan kalimatku untuk mengambil napas sebanyak-banyaknya. "Gio, sekali lagi makasih, ya. Buat semuanya. Gio manusia paling baik yang pernah Rara kenal selain keluarga Rara dan keluarga Gio. Lebaran tahun ini kita gak bisa tuker kado, ya. Rara pastiin kalau janji dan rencana yang kita bikin sejak dulu, bakal Rara relasisasikan. Do'a-in, ya, Gio."
Aku melirik arlojiku, menandakan satu jam lagi keberangkatanku ke Jerman.
"Gio, Rara pamit, ya. Pesawat Rara berangkat jam dua." Aku tersenyum menatap ke arah batu nisan. "Banyak yang mau Rara ceritain selama Gio gak ada, dan akan bertambah lebih banyak lagi. Kita ketemu di surga, ya. Gio jangan pura - pura gak kenal kalau Rara panggil. Awas aja. Rara bakal marah kalau Gio pura-pura gak kenal nanti."
Aku tergelak ringan lalu tersenyum. "Bertemu lagi nanti, Rakagio Mahesa kesayangan Gistarararara." Aku tertawa lebar. "Kenapa, sih, Gio suka nambahin Ra di akhir nama Rara? Nama Rara lucu, ya? Iya 'kan? Iya, lah. Orang Ibu Rara yang ngasih nama. Berterima kasih dulu sama Ibu."
Aku terdiam cukup lama, sampai akhirnya titik demi titik air jatuh ke permukaan membuat aku tersadar dari lamunan.
"Emang gak bisa sebentar kalau ngobrol sama Gio. Gio, Rara bakal pamit beneran. Kita ketemu lagi nanti, ya. Rara sayang Gio. Gak akan pernah ngelupain Gio. Assalamualaiku, Rakagio." Aku mengusap puncak batu nisan dan menciumnya lama.
Terima kasih, Rakagio Mahesa.
<>
Aku menutup buku lalu menghela nafas panjang.
"Mamaaaa, Raka mukul Gita pakai sapu!" Suara teriakan nyaring serta langkah kaki gusar terdengar membuat aku tergelak lalu terkekeh pelan.
"Mana yang sakit, sayang?" Aku menangkup wajah Gita lembut.
"Ini, Ma. Sakit. Raka-nya nakal."
Aku tertawa pelan, "nanti Mama marahin, ya, Raka-nya? Sekarang kita makan siang. Mama gak masak, kita beli aja, ya? Gita mau apa?"
"Mau ayam saus dan milkshake cokelat!"
- Fin.
[Rarastyles]
Comments
Post a Comment